Tulisan Terbaru

Day 6 #10daysforASEAN: Secercah Harapan di Laos

By 1.9.13 , , , , , , , ,


Hari Keenam tentang Laos. Visi ASEAN 2015 adalah menjadi ASEAN komunitas tunggal, baik di bidang ekonomi mau pun politik. Laos, atau Republik Demokratik Laos, meski sudah bergabung dengan ASEAN sejak tahun 1997, namun baru membuka diri seluas-luasnya dengan negara lain pada tahun 2004, dan melakukan kerjasama di berbagai bidang. Peran Republik Demokratik Laos di ASEAN, bisa dikatakan belum banyak berkontribusi, tenggelam di bawah bayang-bayang negara ASEAN lainnya yang semakin maju. Dengan adanya Komunitas ASEAN, diharapkan Laos menjalin kemitraan yang baik dengan  negara ASEAN lainnya. Jika posisi Anda adalah negara Laos, investasi diplomatik apa yang diharapkan dengan kemitraan yang terjalin dengan dunia internasional, khususnya negara-negara ASEAN. Tuliskan pendapatmu di blog tentang hal tersebut. Fokus pada peran Laos sebagai anggota Komunitas ASEAN.



 http://www.tourismindochina.com/laos/image-laos/Laos%20map1.jpg
Luasnya negara ini kurang lebih 236,800 km2 dan berbatasan dengan Myanmar dan Cina di sebelah barat laut, Vietnam di sebelah timur, Kamboja di selatan dan Thailand di sebelah  barat. Konon katanya, dari abad ke-14 sampai abad ke-15 negara ini disebut juga Lan Xang atau Negeri Seribu Gajah.


Seperti halnya Indonesia, Laos juga pada awal sejarahnya didominasi oleh kerajaan. Tapi, kerajaan pertama yang mendominasi Laos adalah Kerajaan Nanzhao yang kemudian dilanjutkan oleh kerajaan lokal Lan Xang pada abad ke-14 dan berakhir pada abad ke-18, setelah Thailand menguasai kerajaan tersebut. Sama seperti Vietnam, pada abad ke-19 atau tepatnya pada tahun 1893 wilayah ini dikuasai oleh Perancis. Tahun 1949 atau tepatnya setelah penjajahan Jepang selama Perang Dunia II, Laos memerdekakan diri dengan nama Kerajaan Laos dibawah pemerintahaan Raja Sisavang Vong. Tidak selesai sampai disitu, karena sebagai akibat dari keguncangan politik di Vietnam sudah membuat Laos akhirnya menghadapi Perang Indochina Kedua yang lebih besar atau dikenal juga dengan Perang Rahasia. Perang inilah yang menjadi faktor ketidakstabilan pemerintahan dan memicu perang saudara juga beberapa kali kudeta. Semakin terpuruk ketika tahun 1975 kaum komunis Pathet Lao yang didukung oleh Uni Soviet dan berakhir pada berakhirnya pemerintahan Raja Savang Vatthana yang mendapat dukungan Amerika Serikat dan Perancis setelah didepak oleh komunis Vietnam. Sejak itu, negara ini mengganti nama menjadi Republik Demokratik Rakyat Laos dengan ibu kota Vientiane. Pada akhir dekade 1980an, Laos mempererat hubungannya dengan Vietnam dan mengendurkan larangan ekonomi dan dilanjutkan dengan bergabungnya Laos dengan organisasi ASEAN pada tahun 1997. 

Setelah memperbaiki hubungan ekonomi dengan Vietnam, pemerintah Laos melepas kontrol ekonomi ditandai dengan pemberian ijin berdirinya perusahaan swasta di sana pada tahun 1986. Hasinya, pertumbuhan ekonomi meningkat secara signifikan menjadi rata-rata 6% pertahun selama periode 1988-2004, kecuali ketika krisis moneter melanda Asia mulai tahun 1997. Sama halnya seperti Indonesia dan negara berkembang lainnya, kota-kota besar seperti Vientiane, Luang Prabang, Pakxe dan Savannakhet mengalami pertumbuhan. Normalisasi hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat pada akhir 2004 membuat produsen Laos memperoleh tarif ekspor lebih rendah untuk merangsang pertumbuhan perekonomian di sektor ekspor. Sayangnya, upaya tersebut sepertinya belum cukup membuat Laos bisa sejajar dengan anggota ASEAN lainnya dan berkontribusi.

Sumber http://bit.ly/15tV5ql
Berdasarkan hasil penelitan yang dilakukan oleh Bank Dunia pada tahun 2005, terdapat 37% penduduk Laos yang berpendidikan tinggi lebih memilih untuk tinggal dan bekerja di luar negeri. Padahal, kalau diberdayakan diberbagai sektor, pastinya akan membuat Laos lebih maju dan mampu berkontribusi dan sejajar dengan anggota ASEAN lainnya. Sayangnya belum banyak investor yang masuk ke Laos untuk menanamkan modalnya dan menciptakan lapangan kerja baru.Untuk itu, perlu adanya upaya untuk memotivasi 37% itu agar mereka kembali ke Laos untuk bersama-sama membangun negeri. 

Meski dari segi infrastruktur sudah ada, namun masih terbatas untuk daerah perkotaan. Sehingga perkembangan perekonomian menjadi tidak merata. Untuk itu, bentuk diplomatik investasi yang diharapkan adalah bantuan konsultasi rancang bangun infrastruktur dari Singapura yang memiliki management traffic dan komunikasi yang sangat bagus. Untuk pertanian diharapkan Indonesia dapat turut berpartisipasi dan bidang pariwisata dari anggota ASEAN yang sudah lebih maju. Melakukan berbagai kerjasama dengan negara-negara tetangga yang saling berbatasan untuk membuka jalur transportasi darat seperti dari Singapura ke Malaysia atau Malaysia ke Thailand.

Barangkali saat Komunitas Ekonomi ASEAN 2015 nanti Laos belum 100% siap dan sudah bisa dikatakan sejajar dengan anggota ASEAN lainnya, namun setidaknya ada perubahan kearah perbaikan dan bisa meningkatkan kontribusi pada organisasi bisa ditingkatkan juga.

~~~yang punya blog~~~

Tulisan ini disertakan dalam Lomba Blog #10daysforASEAN, Menuju Komunitas Ekonomi ASEAN 2015.

Tulisan dengan kategori sama:

0 komentar