Postingan

Pengalaman SWAB Antigen Test

Gambar
Lanjut ah ceritanya... Jadi, setelah urusan diinfus dan ambil obat di apotik rumah sakit selesai, aku akhirnya balik. Batal test hari itu karena ternyata slot jam 6 sore sudah habis. Drama diinfus bisa baca di sini ya. Besoknya nih. Karena dihari ke-8 terpaksa harus ke IGD rumah sakit, jadilah  SWAB Antigen Test  baru bisa dilakukan dihari ke-9. Karena memang udah terbiasa bangun pagi ngga tidur lagi. Jadi jam 8 kurang sudah siap berangkat ke rumah sakit. Well, telat sih sebenernya. Tapi aku pikir, paling antri bentar buat registras ulang dan bayar, terus antri test dan pulang. Tapi rupanya... oh rupanya, ekspektasi tidak sesuai dengan realita saudara-saudara! Begitu sampai di area teras menuju lobby rumah sakit, ada 2 orang petugas yang lengkap dengan APD. Aku pikir, tempat registrasi ulang di situ. Ternyata harus jalan beberapa meter melewati lobby. Ngga jauh dari sebuah ruangan, ada antrian. Sempat tanya ke salah satu yang antri di situ. Akhirnya aku mendatangi salah seorang securi

Mendadak Diinfus!

Gambar
Melanjutkan cerita  Pengalaman Isolasi Mandiri  sebelumnya. Setelah hari ketiga ngga muncul gejala (symptoms) #COVID19, aku nerusin isolasi mandiri sampai hari ke delapan. Seharusnya hari ke-7 atau ke-8 itu aku sudah bisa  SWAB Antigen Test . Hanya aja, hari itu terjadi drama diluar rencana dan kendali. Pagi hari, aku sarapan roti isi lembaran keju dan minum teh tawar panas ditambah 1 irisan lemon kering. Kira-kira jam 10 pagi atau jam 11an, lambung mulai terasa kurang nyaman. Air teh yang tinggal setengah, aku sedu lagi dengan air panas dan aku minum. Dengan harapan, akan mengurangi rasa ngga nyaman di lambung. Aku balur perutku dengan minyak kayu putih dan coba berbaring. Agak lama berbaring, lambung makin ngga nyaman rasanya, bahkan aku ngerasa asam lambung naik sampai tenggorokan. Aduh! Aku coba tarik nafas, nyoba tenang, dan fokus lagi nyari lokasi untuk SWAB Antigen Test yang non- drive thru . Kira-kira jam 1 siang, akhirnya aku bangun, wudhu dan shalat. Rasa ngga nyaman makin me

Pengalaman Isolasi Mandiri

Setelah berbulan-bulan menjaga diri, mengikuti protokol kesehatan (prokes) yang berlaku, lebih banyak di rumah. Tapi akhirnya harus mengalami isolasi mandiri. Kok bisa? Seperti apa rasanya?  Jadi begini... Aku inget sekali itu hari Rabu siang, jadwal WFH. Sedang masak nasi liwet. Lalu sambil menunggu nasi liwet jadi, aku beli lauknya dari warung makan dekat dengan tempat tinggalku. Tanpa berpikir apapun, aku beli dan buru-buru balik. Selesai makan, temenku pulang. Ada yang bisikin ke aku, bahwa teman serumah si pelayan warung itu sempat berinteraksi dengan OTG seminggu sebelumnya dan hari Seninnya baru dinyatakan positif COVID-19! *glek* Lemas? Iya! Kesal? Pasti! Apalagi katanya tadinya aku ngga akan dikasih tau. Emosiku terpancing. Kenapa mesti disembunyikan? Aku berhak untuk tau, karena itu menyangkut kesehatan dan keselamatanku. COVID-19 itu bukan aib kok. Tapi kita memang harus waspada. Dan aku sikapi ini dengan serius. Aku ngga tau apakah si pelayan itu OTG atau bukan, apakah dia

Pertama Kali

Gambar
Selalu ada yang pertama.  Apapun.  Termasuk pertama kali aku ikut virtual walk race !  Ini berawal dari kebiasaan baru untuk rutin jalan pagi sepanjang minimal 3km, lalu melihat postingan seorang teman yang beberapa kali mengikuti virtual race . Apa itu? Bagaimana caranya? Sampai kemudian, seorang teman yang lain kirim link ke WA. Prudential Indonesia mengadakan Pru25Acteev Virtual Walk & Run . Pilihannya 10K, 25K, 50K. Free . Gratis. Ngga bayar. Kecuali kalau mau dapat real medal. Setelah baca aturan main dan melihat catatan pribadi di Samsung Health apps yang ada di handphone , aku memberanikan diri untuk mengikuti virtual race tersebut. Aku pilih virtual walk , selain sudah lumayan punya catatan dalam beberapa minggu sebelumnya, juga secara medis tidak diijinkan untuk melakukan olah raga high impact , termasuk lari. Awalnya mau pilih yang 10K, tapi sepertinya kurang greget! Mau pilih 50K, aduh... kalau perhari 5K, berarti aku butuh 10 hari untuk selesaikan itu. Akhirnya pili

Ramadan Tahun Ini

Gambar
Beberapa jam menjelang Ramadan tahun ini tiba, karena ngga bisa pulang ke rumah orangtua karena pandemi COVID-19 , tiba-tiba aja terpikir untuk punya daily note . Ngga mesti panjang, tapi intinya cukup mencatat hal-hal yang patut disyukuri sepanjang hari itu, setiap hari. Lalu, keinginan ini aku share ke temen. Gayung bersambut. Niatnya, malam takbiran kami akan ketemu, lalu akan kami share sambil menikmati malam takbiran yang pasti tidak akan biasa. Walau tetap berharap gema takbir tetap akan terdengar dari Masjid terdekat. Hari pertama, dan kedua lancar. Hari ketiga, baru beberapa kata, terus merenung... diem aja. Akhirnya aplikasi di smartphone ditutup tanpa ada penambahan kata atau kalimat apapun. Hari-hari berikutnya, cuma dirasa, dinikmati, tapi sulit banget untuk ditulis.  Sambil sesekali mantau situasi yang ada. Keluar rumah hanya kalau bener-bener perlu banget, lengkap dengan masker, hand sanitizer , tisu basah antibakteri, sarung tangan plastik. Pulang ke rumah buru-buru ma

Tiba-Tiba

Hari ini, 9 Mar 2020 pukul 11.24WIB Tiba-tiba jemari bergerak kesini. Membuka lembar kosong, dan mulai mengetik. Mengalir tanpa konsep. Kenapa? Entah! Tiba-tiba ingin menuliskan sesuatu di sini. Mungkin ini rindu, rindu untuk bertutur, rindu untuk bercerita. Seperti dulu. Tapi kali ini, aku mesti memilah, apa saja yang ingin aku ceritakan di sini. Agar aku tidak seperti buku yang terbuka lebar, seperti dulu. Aku ingin bercerita, tak peduli apakah nanti akan ada yang membaca ceritaku atau tidak. Seperti dulu, ketika aku mulai bercerita. Ini permulaan. Nanti aku lanjutkan ceritaku. ~~~yang punya blog~~~

Day 1 Random Subject: How did someone change your life?

Gambar
Belajar menulis dengan memanfaatkan Writing Exercises Apps yang aku download dari Google Play. Niatnya, mau 10 hari terhitung sejak tanggal 4 Mei kemarin dan ini aku copy & paste dari Facebook aku. Catatan khususnya begini: write for 10 minutes without stopping ~~~ [11:41] Sebetulnya dulu aku bukan orang yang gampang bisa langsung ngobrol banyak sama orang baru. Not at all . Bahkan ketika suatu hari aku ditempatkan di bagian front desk pun, masih harus ada orang lain yang mendampingi. Pelan-pelan, dan butuh waktu lama untuk bisa beradaptasi dengan kondisi baru tersebut. Sampai kemudian, Juli 2001, semuanya berubah. Pekerjaan baru, lingkungan baru, tanggung jawab baru, teman-teman kerja baru... all new ... saya perhatikan dalam 1 minggu. Aku coba mengenal mereka satu persatu dan... hey... mereka bisa, kenapa aku ngga bisa seperti mereka? Satu-satunya kendala mereka adalah kemampuan berbahasa Inggris yang saat itu aku merasa lebih baik dari mereka. Akhirnya, dengan segal